Hari Baru Semangat Harus Selalu Diperbaharui Pula

30 menit lagi akan berganti hari menuju Jumat 5 November 2010. Itu berarti menandakan bahwa raga ini telah berjuang untuk hidup selama 2 hari tidak tidur. Hari-hariku dimulai ketika pukul setengah enam sore, sebelum adzan maghrib dikumandangankan. Tidak lazim seperti kebanyakan orang yang bangun setelah mendengar kokok ayam jantan dan sinar matahari terbit di pagi hari. Ini semuanya berkenaan dengan jadwal kerja yang memang ditempatkan di malam hari.

Setelah Shalat Maghrib terus kusempatkan untuk mengaji 1 juz dari Al-Qur’an yang selalu kuusahakan untuk istiqomah hingga adzan Isya. Kalaupun ada makanan di dapur kusiapkan tempat untuk kubawa ke tempat kerja dan seandainya tidak ada ya sudah, tidak makan.

Pukul 8 malam sampai jam 3 pagi adalah jam kerjaku. Berada di sebuah ruko berlantai tiga di kawasan Perguruan Tinggi Jl. Nginden Semolo Surabaya. Antara jam 3 sampai jam 6 adalah saat-saat yang paling hening kubuat untuk refleksi diri. Hingga akhirnya ketika langit sudah terang kuharus segera pulang dan bergegas untuk menunaikan kewajiaban yang lain yakni yang primer, Kuliah.

Kampus Unesa yang berjarak 20km dari rumah memang tidaklah dekat menurutku. Harus kutempuh kurang lebih setengah jam hingga 45 menit dengan tingkat kestressan setara ujian semester karena macet yang menjadi ciri khas kota-kota besar. Adapun persiapan dirumah kukira sangat singkat, 30 menit adalah waktu yang begitu banyak. Sekedar untuk mandi, ganti baju dan lainnya.

Di kampus ini, meski secara pribadi dan wacana umum teman-teman yang lain yang berpendapat masih kaburnya akan output lulusan dan hampir tidak ada yang tahu akan mau jadi apa kelak setelah lulus, bukanlah hal yang penting. Dan yang kurasakan selama empat tahun ini mereka juga tidak ada masalah. Yang terpenting adalah title Sarjana.

Tiap hari dari Senin sampe Jumat kuluangkan waktuku 8 sampai 9 jam untuk hal yang berhubungan dengan study dan sharing dengan teman-teman. Itu adalah waktu setelah sekian jam dari kerja malam sehingga yang kurasakan sebenarnya kurang baik untuk penerimaan informasi atau ilmu oleh otak. Justru yang ada hanyalah rasa kantuk yang dengan berat harus kukalahkan meski kadang akaulah yang kalah. Proses belajar pada kuliah memang benar-benar tidak seperti ketika masih di bangku sekolah. Diri sendirilah yang mendapatkan ilmu dan bukan orang lain. Maka belajar, membaca, membuat rangkuman menjadi sesuatu yang kurasa harus disiapkan. Pada saat ada kuliah di kelas pun  sebenarnya kalau kita mau menyempatkan membaca buku dan sebagainya sebelum dosen menerangkan, maka kita juga bisa sedikit banyak menguasai materi. Kurasa kita hanya kalah satu lembar dari dosen kita. Sehingga yang dirasakan adalah seakan-akan mengisi air pada gelas yang kosong.

Energi agar bisa menjalankan ini semua adalah Semangat. Semangat yang tinggi dan selalu dijaga dan diperbaharui setiap harinya dengan memasang target yang realistis bagiku adalah prinsip. Yang menjadikan kita terjerumus juga adalah dari diri sendiri yaitu kemalasan. Kalau saja orang bodah bisa diajari, orang yang lupa bisa diingatkan, namun jika orang yang malas siapa lagi kalau bukan diri sendirilah yang harus melawannya. Tekadlah untuk memerangi hal itu. Bahkan sebagai orang surabaya kita harus memiliki jiwa BONEK.

Dan akhirnya mengutip motivasi yang diutarakan Andrie Wongso:

“Bagaimanapun buruknya keadaan kita, selama masih memiliki percikan api berupa TEKAD, maka tiada kata terlambat untuk memulai hidup baru dan menciptakan SUKSES yang baru!”

 

Akhirnya Good Night kusampaikan pada pukul 3 sore. Kadang hal itu aneh karena sorot matahari menembus sampai kamar tidur.

Aku rasa istirahat 3 jam tidaklah cukup. Tapi inilah adalah hidupku.

 

Terima kasih kepada teman-teman sekelas seperjuangan, adik kelas & kakak kelas yang selalu merepotkan kalian, para dosen, kekasih, orangtua, dan customerku ditempat kerja yang memberi warna hidupku.

 

Dipublikasi di Diary | Tag , | Meninggalkan komentar

Pembelajaran Interaktif Berbasis Multimedia

Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier dan multimedia interaktif.

A. Pengertian Multimedia Pembelajaran
Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier dan multimedia interaktif.
Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya: TV dan film.
Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah: multimedia pembelajaran interaktif, aplikasi game, dll.
Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktifitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsur-unsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa. Dari uraian di atas, apabila kedua konsep tersebut kita gabungkan maka multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang piliran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali.

B. Manfaat Multimedia Pembelajaran
Secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan prises belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan.
Manfaat di atas akan diperoleh mengingat terdapat keunggulan dari sebuah multimedia pembelajaran, yaitu:
1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron dll.
2. Memperkecil benda yang sangat besar yang tidak mungkin dihadirkan ke sekolah, seperti gajah, rumah, gunung, dll.
3. Menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga dll.
4. Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju, dll.
5. Menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti letusan gunung berapi, harimau, racun, dll.
6. Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.

C. Karakteristik Media dalam Multimedia Pembelajaran
Sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran, pemilihan dan penggunaan multimedia pembelajaran harus memperhatikan karakteristik komponen lain, seperti: tujuan, materi, strategi dan juga evaluasi pembelajaran.
Karakteristik multimedia pembelajaran adalah:
1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual.
2. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna.
3. Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
4. Selain memenuhi ketiga karakteristik tersebut, multimedia pembelajaran sebaiknya memenuhi fungsi sebagai berikut:
5. Mampu memperkuat respon pengguna secepatnya dan sesering mungkin.
6. Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengontrol laju kecepatan belajarnya sendiri.
7. Memperhatikan bahwa siswa mengikuti suatu urutan yang koheren dan terkendalikan.
8. Mampu memberikan kesempatan adanya partisipasi dari pengguna dalam bentuk respon, baik berupa jawaban, pemilihan, keputusan, percobaan dan lain-lain.

D. Format Multimedia Pembelajaran
Format sajian multimedia pembelajaran dapat dikategorikan ke dalam lima kelompok sebagai berikut:

1. Tutorial
Format sajian ini merupakan multimedia pembelajaran yang dalam penyampaian materinya dilakukan secara tutorial, sebagaimana layaknya tutorial yang dilakukan oleh guru atau instruktur. Informasi yang berisi suatu konsep disajikan dengan teks, gambar, baik diam atau bergerak dan grafik. Pada saat yang tepat, yaitu ketika dianggap bahwa pengguna telah membaca, menginterpretasikan dan menyerap konsep itu, diajukan serangkaian pertanyaan atau tugas. Jika jawaban atau respon pengguna benar, kemudian dilanjutkan dengan materi berikutnya. Jika jawaban atau respon pengguna salah, maka pengguna harus mengulang memahami konsep tersebut secara keseluruhan ataupun pada bagian-bagian tertentu saja (remedial). Kemudian pada bahagian akhir biasanya akan diberikan serangkaian pertanyaaan yang merupakan tes untuk mengukur tingkat pemahaman pengguna atas konsep atau materi yang disampaikan.

2. Drill dan Practise
Format ini dimaksudkan untuk melatih pegguna sehingga memiliki kemahiran dalam suatu keterampilan atau memperkuat penguasaan suatu konsep. Program menyediakan serangkaian soal atau pertanyaan yang biasanya ditampilkan secara acak, sehingga setiap kali digunakan makan soal atau pertanyaan yang tampil selalu berbeda, atau paling tidak dalam kombinasi yang berbeda.
Program ini dilengkapi dengan jawaban yang benar, lengkap dengan penjelasannya sehingga diharapkan pengguna akan bisa pula memahami suatu konsep tertentu. Pada bahagian akhir, pengguna bisa melihat skor akhir yang dia capai, sebagai indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam memecahkan soal-soal yang diajukan.

3. Simulasi
Multimedia pembelajaran dengan format ini mencoba menyamai proses dinamis yang terjadi di dunia nyata, misalnya untuk mensimulasikan pesawat terbang, di mana pengguna seolah-olah melakukan aktifitas menerbangkan pesawat terbang, menjalankan usaha kecil, atau pengendalian pembangkit listrik tenaga nuklir dan lain-lain. Pada dasarnya format ini mencoba memberikan pengalaman masalah dunia nyata yang biasanya berhubungan dengan suatu resiko, seperti pesawat yang akan jatuh atau menabrak, peusahaan akan bangkrut, atau terjadi malapetaka nuklir.

4. Percobaan atau Eksperimen
Format ini mirip dengan format simulasi, namjun lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat eksperimen, seperti kegiatan praktikum di laboratorium IPA, biologi atau kimia. Program menyediakan serangkaian peralatan dan bahan, kemudian pengguna bisa melakukan percobaan atau eksperimen sesuai petunjuk dan kemudian mengembangkan eksperimen-eksperimen lain berdasarkan petunjuk tersebut. Diharapkan pada akhirnya pengguna dapat menjelaskan suatu konsep atau fenomena tertentu berdasarkan eksperimen yang mereka lakukan secara maya tersebut.

5. Permainan
Tentu saja bentuk permainan yang disajikan di sini tetap mengacu pada proses pembelajaran dan dengan program multimedia berformat ini diharapkan terjadi aktifitas belajar sambil bermain. Dengan demikian pengguna tidak merasa bahwa mereka sesungguhnya sedang belajar.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

karakteristik belajar mandiri

Menurut Candy (1975), belajar mandiri dapat dipandang baik sebagai proses dan juga tujuan. Dengan kata lain, belajar mandiri dapat dipandang sebagai metode belajar dan juga karakteristik pebelajar itu sendiri. Belajar mandiri sebagai tujuan mengandung makna bahwa setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu pebelajar diharapkan menjadi seorang pebelajar mandiri. Sedangkan belajar mandiri sebagai proses mengandung makna bahwa pebelajar mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu tanpa terlalu tergantung pada guru/tutor (mandiri).

Berkaitan dengan hal ini, Candy juga membedakan antara belajar mandiri sebagai modus dalam mengorganisasikan pembelajaran dalam seting formal (learner-control) dengan belajar mandiri sebagai individualisasi (autodidaxy). Konsep pertama, menjelaskan konsep belajar mandiri sebagai sistem belajar dalam seting formal. Sedangkan konsep kedua, menjelaskan belajar mandiri sebagai belajar sendiri secara bebas (otodidak). Jadi, belajar mandiri tidak sama dengan belajar otodidak (belajar sendiri). Belajar mandiri sebagai proses memfokuskan diri pada karakteristik transaksi belajar-mengajar yang melibatkan “needs assessment”, sistem evaluasi, sumber-sumber belajar, peran dan keterampilan fasilitator/tutor. Dodds (1983), menjelaskan bahwa belajar mandiri adalah sistem yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri dari bahan cetak, siaran ataupun bahan pra-rekam yang telah terlebih dahulu disiapkan; istilah mandiri menegaskan bahwa kendali belajar serta keluwesan waktu maupun tempat belajar terletak pada siswa yang belajar.

Dengan demikian, belajar mandiri sebagai metode dapat didefinsisikan sebagai suatu pembelajaran yang memfosisikan pebelajar sebagai penanggung jawab, pemegang kendali, pengambil keputusan atau pengambil inisiatif dalam memenuhi dan mencapai keberhasilan belajarnya sendiri dengan atau tanpa bantuan orang lain. Guru/tutor berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan pebelajar dapat secara mandiri: 1) mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; 2) merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri; 3) mengidentifikasi dan memilih sumber-sumber belajarnya sendiri (baik sumber belajar manusia atau non-manusia); 4) menentukan dan melaksanakan strategi belajarnya; dan 4) mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.

Pembelajaran dengan sistem belajar mandiri mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan pendidikan dengan sistem lain. Knowles (1975) menyatakan bahwa sistem belajar mandiri bukan cara belajar yang tertutup, dimana pebelajar belajar secara sendiri tanpa bantuan orang lain. Tetapi, belajar mandiri terjadi dengan bantuan orang lain seperti guru, tutor, mentor, narasumber, dan teman sebaya. Knowles membedakan sistem belajar mandiri dengan sistem belajar tradisional dengan istilah pedagogi dan andragogi. Konsep pedagogi memandang pebelajar sebagai obyek, dalam hal ini pebelajar diajarkan (being taught) tentang sesuatu. Sedangkan konsep andragogi memandang pebelajar sebagai subyek, peran guru adalah membantu belajar.
Kozma et.al.(1978), senada dengan Knowles, membedakan sistem belajar mandiri dengan belajar individual, seperti pembelajaran berbantuan komputer, proyek yang ditugaskan oleh guru dan lain-lain. Sistem belajar mandiri memberikan peluang kepada pebelajar untuk menyesuaikan diri dengan tujuan, sumber belajar dan kegiatan-kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan pada belajar individual, kesempatan untuk hal ini tidak ada. Semuanya telah ditentukan oleh guru atau pembuat program secara “top-down”, baik dari segi tujuan, sumber belajar dan kegiatan-kegiatan belajarnya.

Karakteristik utama pendidikan dengan sistem belajar mandiri adalah tanggung jawab dalam mengendalikan dan mengarahkan belajarnya sendiri berada ditangan pebelajar. Karakteristik umum lainya, menurut Institut for Distance Education of Maryland University, pendidikan dengan sistem belajar mandiri memiliki karakteristik: 1) membebaskan pebelajar untuk tidak harus berada pada satu tempat dalam satu waktu tertentu; 2) disediakannya berbagai bahan (materials) termasuk panduan belajar dan silabus yang rinci serta akses ke semua anggota fakultas (penyelenggara pendidikan) yang memberikan layanan bimbingan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pebelajar, dan mengevaluasi karya-karya para pebelajar; 3) komunikasi antara pebelajar dengan instruktur atau tutor dicapai melalui satu atau kombinasi dari beberapa teknologi komunikasi seperti telepon, voice-mail, konferensi melalui komputer, surat elektronik, dan surat-menyurat secara reguler.

Namun demikian, ketiadaan atau keterpisahan jarak (kelas), antara pebelajar dengan fakultas (tutor) dan pebelajar lainnya, bukan merupakan karakteristik utama dari pendidikan dengan sistem belajar mandiri. Pernyataan ini menjelaskan bahwa sistem belajar mandiri tidak hanya terjadi dalam pendidikan jarak jauh dimana antara pebelajar dan guru terpisah oleh jarak dan waktu. Dalam pendidikan konvensional sekalipun, apabila pebelajar diposisikan sebagai subyek dimana mereka diberi tanggung jawab untuk mengendalikan dan mengarahkan belajarnya sendiri, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan tersebut menggunakan sistem belajar mandiri.

Wedemeyer (1968), seperti dikutip oleh Keegan menyebutkan sepuluh karakteristik sistem belajar mandiri. Kesepuluh karakteristik tersebut meliputi: 1) sistem harus dapat dilakukan disemua tempat dimana terdapat pebelajar, walaupun hanya satu orang pebelajar, baik dengan atau tanpa kehadiran guru pada saat dan tempat yang sama; 2) sistem harus memberikan tanggung jawab untuk belajar yang lebih besar kepada pebelajar; 3) sistem harus membebaskan anggota fakultas dari tipe tugas lain yang tidak relevan, sehingga lebih banyak waktu digunakan sepenuhnya untuk tugas-tugas pendidikan; 4) sistem harus menawarkan kepada pebelajar pilihan yang lebih luas (lebih banyak peluang) baik dari segi mata kuliah, bentuk, maupun metodologi; 5) sistem harus memanfaatkan, segala bentuk media dan metode pembelajaran yang telah terbukti efektif; 6) sistem harus mencampur dan mengkombinasikan media dan metode sehingga setiap topik atau unit dalam suatu mata kuliah diajarkan dengan cara yang terbaik; 7) sistem harus mempertimbangkan desain dan pengembangan mata ajar yang sesuai dengan program media yang sudah ditetapkan; 8) sistem harus memelihara dan meningkatkan peluang untuk dapat beradaptasi dengan perbedaan-perbedaan individu; 9) sistem harus mengevaluasi keberhasilan belajar secara sederhana, dengan tidak harus menjadikan hambatan berkaitan dengan tempat dimana pebelajar belajar, kecepatan belajar mereka, metode yang mereka gunakan atau urutan belajar yang mereka lakukan; dan 10) sistem harus memungkinkan pebelajar untuk memulai, berhenti dan belajar sesuai dengan kecepatanya.
Namun demikian, dalam prakteknya, sistem belajar mandiri tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang diskrit, tapi lebih bersifat kontinum. Derajat kemandirian belajar yang diberikan oleh suatu lembaga (program) pendidikan kepada pebelajarnya berbeda-beda. Moore (1977) seperti dikutip oleh Keegan (1990) menyatakan bahwa derajat kemandirian belajar yang diberikan kepada pebelajar dapat dilihat dari tiga aspek: 1) kemandirian didalam menentukan tujuan: apakah pemilihan tujuan belajar ditentukan oleh guru atau oleh pebelajar?; 2) kemandirian dalam metode belajar: apakah pemilihan dan penggunaan sumber belajar (narasumber), dan media lain keputusannya dilakukan oleh guru atau pebelajar?; dan 3) kemandirian dalam evaluasi: apakah keputusan tentang metode evaluasi dan criteria yang digunakan dibuat oleh guru atau pebelajar? Semakin besar peran kendali atau pengambilan keputusan atau inisiatif diberikan kepada pebelajar maka semakin tinggi (murni) derajat sistem belajar mandiri dari suatu lembaga pendidikan tersebut.

Dipublikasi di education | Tag , | Meninggalkan komentar

Teknik menyusun Prota dan Promes

Teknik Menyusun Program Tahunan dan Program Semester

(Sebuah Refleksi Pentingnya Perencanaan yang Berkualitas)

Oleh: Trimo, S.Pd.,M.Pd.


Pengantar:

Reparasi kurikulum secara sporadis oleh pemerintah (Depdiknas) telah membangkitkan ”emosi” guru untuk memberi komentar yang beragam. Ada yang berkomentar lantaran keperluan institusi, perkembangan ipteks, penyesuaian dengan situasi, proyek, dan ada pula yang memilih diam. Apa pun komentar teman-teman guru perlu dimaknai sebagai wujud aktualisasi diri.

Sependapat dengan J. Drost, SJ (2005:48) bahwa kurikulum-kurikulum yang ada sudah baik, namun belum meyani semua pelajar kita. Pengajaran kita tidak perlu direformasi kalau melihat masalah kurikulum. Yang amat perlu direformasi ialah birokrasi pendidikan dan pengajaran.

Konsekuensi logis dari bergulirnya kurikulum baru adalah penyesuaian perangkat pembelajaran, seperti program tahunan (Prota), program semester (Promes), silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan sejenisnya. Guru-guru pun lantas gelisah lantaran seperangkat administrasi yang sudah dikerjakan tidak bisa ”dicopy paste” untuk tahun-tahun berikutnya.

Ibarat sebuah umpan, agaknya publik sudah menangkap kegelisahan guru. Berbagai bentuk administrasi mendadak hadir mengobati kegelisahan guru. Tawaran administrasi model baru dari rekanan seolah menjadi angin segar bagi guru. Guru tinggal tanda tangan dan memberi tanda tertentu pada kolom-kolom yang sudah ada.

Memang seperangkat administrasi tersebut sangat membantu guru, apalagi guru yang hendak mengajukan kenaikan pangkat melalui penilaian angka kredit. Namun sejujurnya, instanisasi proses administrasi tersebut merupakan ”pembodohan” guru secara sistematis. Hal ini lantaran penyeragaman materi (dalam sebuah RPP contohnya) merupakan potret guru yang kurang memahami perbedaan individual (individual different) peserta didiknya. Seperti yang dikatakan Tilaar (2002) bahwa proses pendidikan yang mengabaikan proses individualisasi adalah pengungkungan atau pemenjaraan proses perkembangan manusia.

Percik pemikiran sederhana ini mencoba untuk membangkitkan kembali pemahaman kita dalam menyiapkan, merumuskan, mengkaji, dan menganalisis administrasi pembelajaran yang secara conditio sine qua non merupakan syarat utama untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna. Kajian sederhana ini difokuskan pada teknik menyusun Prota dan Promes.

Substansi:

Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan (Arikunto dan Jabar, 2004:3). Oleh karena itu penyusunan program tahuan dan program semester tentu merupakan satu sistem yang saling terkait.

Ditambahkan Uno (2007) bahwa salah satu asumsi dasar perlunya merencanakan suatu program pembelajaran adalah untuk memperbaiki kualtas pembelajaran yang bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran.

1. Konsep Dasar Program Tahunan

Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang dikembangkan oleh guru (Mulyasa, 2003:183). Dipertegas Muslich (2007:44) program tahunan adalah rencana umum pembelajaran mata pelajaran setelah diketahui kepastian jumlah jam pelajara efektif dalam satu tahun.

Program tahunan perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan pengembangan program tahunan antara lain:

  1. Daftar standar kompetensi sebagai konsensus nasional, yang dikembangkan dalam buku garis-garis besar program pengajaran (GBPP) setiap mata pelajaran yang akan dikembangkan.
  2. Skope dan sekuensi setiap kompetensi. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan materi pembelajaran. Materi pembelajaran tersebut disusun dalam pokok-pokok bahasan dan sub pokok bahasan, yang mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran. Pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan tersebut harus jelas skope dan sekeuensinya. Skope adalah ruang lingkup dan batasan-batasan keluasan setiap pokok dan sub pokok bahasan, sedangkan sekuensi adalah urutan logis dari setiap pokok dan sub pokok bahasan. Pengembangan skope dan sekuensi ini bisa dilakukan oleh guru, dan bisa dikembangkan dalam kelompok kerja guru (KKG). Sebagai pedoman berikut dikemukakan pendapat Sukmadinata (1988) tentang cara menyusun sekuensi bahan ajar:

1) Sekuens kronologis. Untuk menyususn bahan ajar yang mengandung urutan waktu, dapat digunnakan kronologis. Peristiwa-peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu instusi, penemuan-penemuan ilmiah dan sebagainya dapat disusun berdasarkan sekuens kronologis.

2) Sekuens kausal. Sekuens kausal berhubungan dengan kronologis. Peserta didik dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahulu daripada sesuatu peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahulu para peserta didik akan menemukan akibatnya Menurut Rowntree (dalam Mulyasa, 2003: 96) sekuens kausal cocok untuk menyusun bahan ajar ddalam bidang meteorologi dan geomorfologi.

3) Sekuens struktural. Bagian-bagian bahan ajar sesuatu bidang studi telah mempunyai strukturnya. Dalam fisika tidak mungkin mengajarkan alat-alat optik, tanpa terlebih dahulu diajarkan pemantulan dan pembiasan cahaya. Masalah cahaya, pemantulan-pembiasan, dan alat-alat optik tersusun secara struktural.

4) Sekuens logis dan psikologis. Bahan ajar juga dapat disusun berdasarkan urutan logis. Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagian kepada keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang kompleks, tetapi menurut sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan kepada bagian, dari yang kompleks kepada sederhana. Menurut sekuens logis bahan ajar disusuun dari yang nyata kepada yang abstrak, dari benda-benda kepada teori, dari fungsi kepada struktur, dari masalah bagaimana kepada masalah mengapa.

5) Sekuens spiral. Dikembangkan oleh Bruner (1960). Bahan ajaran dipusatkan pada topik atau pokok bahasan tertentu. Dari yopik atau pokok bahasan tersebut bahan diperluas dan diperdalam. Topik atau pokok bahan ajaran tersebut adalah sesuatu yang populer dan sederhana, tetapi kemudian diperluas dan diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks dan sophisticated.

6) Rangkaian ke belakang (backward chaining). Dikembangkan oleh Thomas Gilbert (1962). Dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah meliputi: (a) pembatasan masalah, (b) penyusun hipotesis, (c) pengumpulan data, (d) pengetesan hipotesis, dan (e) intreprestasi hasil tes. Dalam mengajar mulai dengan langkah (e), kemudian guru menyajikan data tentang sesuatu masalah dari langkah (a) sampai (d), dan peserta didik diminta untuk membuat intreprestasi hasilnya (e). pada kesempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c), dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d), dan seterusnya.

7) Sekuens berdasarkan hierakhi belajar. Model ini dikembangkan Gagne (1965) dengan prosedur tujuan khusus utama dianalisis, dan dicari suatu hierakhi urutan bahan ajaran untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Hierakhi tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-turut sampai pokok-pokok bahasan tertentu hierakhi juga dapat mengikuti hierakhi tipe-tipe belajar dari Gagne. Gagne (1970) mengemukakan delapan tipe belajar yang tersusun secara hierakhis mulai dari yang paling sederhana: ”signial learning, stimulus respos learning, motor-chain leraning, verbal association, multiple discrimination, concept learning, principle learning, dan problem solving learning ”.

  1. Kalender pendidikan. Penyusun kalender pendidikan selama satu tahun pelajaran mengacu pada efisiensi, efektifitas, dan hak-hak peserta didik. Dalam kalender pembelajaran, termasuk waktu libur, dan lain-lain. Dengan demikian, dalam menyusun program tahunan perlu memperhatikan kalender pendidikan. Hari belajar efektif dalam satu tahun pelajaran dilaksanakan dengan menggunakan sistem semester (satu tahun pelajaran terdiri atas dua kelompok penyelenggara pendidikan) yang terdiri atas 34-38 minggu.

Berdasarkan sumber-sumber tersebut, dapat ditetapkan dan dikembangkan jumlah kompetensi, pokok bahasan dan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan pokok dan sub pokok bahasan, jumlah ulangan, baik ulangan umum maupun ulangan harian, dan jumlah waktu cadangan.

Setidaknya dalam menyusun Prota, komponen yang harus ada sebagai berikut:

  1. Identitas (mata pelajaran, kelas, tahun pelajaran)
  2. Format isian (semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, matei pokok, dan alokasi waktu).

Dalam perkembangan dan pengkajian penyusunan Prota, terdapat beragam alternatif format program tahunan. Dengan demikian guru memiliki kebebasan dalam menentukan format Prota. Format berikut ini, diadopsi dari berbagai contoh format yang pernah ada:

PROGRAM TAHUNAN

Satuan Pendidikan : ……………..

Mata Pelajaran : ……………..

Kelas : ……………..

Tahun Pelajaran : ……………..

Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pokok Alokasi

Mengetahui Semarang,………………………

Kepala Sekolah Guru Kelas….

_________________ ______________________

NIP. NIP.

Secara sederhana teknik pengisian format di atas dapat dilakukan dengan melihat kurikulum utuh yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi yang di dalamnya terdapat Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tiap mata pelajaran.

Yang tidak kalah pentingnya adalah mencermati alokasi waktu tiap mata pelajaran yang sudah diatur dalam Standar Isi khususnya dalam bab II tentang struktur kurikulum. Dari alokasi waktu tersebut bisa dilihat bahwa dalam satu tahun pelajaran jumlah minggu efektif berkisar 34-38 minggu.

Setelah mengetahui jumlah minggu efektif, langkah berikutnya adalah memetakan kompetensi dasar. Ada berapa kompetensi dasar dalam satu semester kemudian kita kaji kompetensi dasar mana yang memiliki substansi materi yang lebih berat. Hal tersebut kita lakukan untuk menentukan alokasi waktu.

Yang memerlukan pemikiran serius dalam penyusunan program tahunan adalah menentukan materi pokok. Hal ini lantaran dalam KTSP tidak terdapat materi pokok (layaknya KBK). Guru diberi kesempatan yang luas untuk mengapresiasi materi pokok dengan mengacu pada kompetensi dasar. Seperti dikatakan Trimo (2001) bahwa guru bukan tukang mengajar, guru juga bukan pawang. Tetapi, guru adalah ’koki’ dalam pembelajaran sehingga mutlak untuk meramu dan mendesain pembelajaran bermakna.

Yang terjadi di lapangan, proses penentuan materi pokok dilakukan menggunakan alur balik. Seperti mencari materi pokok dalam buku atau melihat materi pokok di KBK, baru menuliskannya dalam program tahunan. Langkah ini sebenarnya kurang efektif manakala guru akan belajar menjadi ’koki’ dalam pembelajaran.

Diskusi dengan teman sejawat dan pembahasan dalam kegiatan KKG akan membantu guru-guru dalam merumuskan materi pokok sehingga program tahunan yang dirumuskan tiap sekolah merupakan refleksi dari kebutuhan siswa. Selebihnya, program tahunan yang didesain akan memberi nuansa dan aura positif bagi pengembangan visi dan misi sekolah.

2. Konsep Dasar Program Semester

Program semester merupakan pemerian/penjabaran dari program tahunan sehingga program tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan.

Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Pada umumnya program semester ini berisikan:

a. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran)

b. Format isian (standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, jumlah jam pertemuan (JJP), dan bulan).

Seperti program tahunan, program semester juga banyak alternatifnya. Berikut disajikan format program semester yang disarikan dari berbagai model yang ada:

PROGRAM SEMESTER

Satuan Pendidikan : ……………………..

Mata Pelajaran : ……………………..

Kelas/Semester : ……………………..

Tahun Pelajaran : ……………………..

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pokok Indikator JJP Bulan (6bulan)
1 2 3 4

Mengetahui Semarang,………………………

Kepala Sekolah Guru Kelas….

_________________ ______________________

NIP. NIP.

Secara sederhana teknik pengisian program semester di atas juga sama seperti program tahunan. Beberapa komponen yang sudah ada dalam program tahunan tinggal memindah saja (SK, KD, Materi Pokok). Yang perlu pencermatan adalah perumusan indikator dan pemerian materi ke dalam bulan selama satu semester.

Indikator dalam program semester harus dirumuskan guru sesuai dengan karakteristik siswa. Indikator ibarat tujuan instruksional khusus (TIK) dalam pembelajaran sehingga perumusannya akan lebih efektif apabila menggunakan kata kerja operasional (KKO), seperti menjelaskan, menyebutkan, menganalisis, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan sejenisnya (selengkapnya dapat dibaca pada pengembangan indikator dalam lampiran makalah ini).

3. Strategi Implementasi

Menjadi guru SD memang harus ”survive”. Jika tidak maka segala bentuk informasi terkini hanya menjadi konsumen saja. Padahal, paradigma pembelajaran terkini sudah berubah dari proses pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai konsumen ke arah pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai produsen. Mana mungkin kita (baca:guru) dapat menjadikan siswa sebagai produsen kalau tidak memberi teladan bagaimana menjadi seorang produsen.

Secara garis besar implementai kurikulum mencakupi tiga kekuatan pokokm yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi (Susilo, 2007:176). Pengembangan program kurikulum mencakupi program tahunan, program semester, program harian, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling. Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses interaksi multiarah yang didesain guru sehingga tercipta enjoyable learning. Sedangkan evaluasi terfokus pada penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, bench marking, dan penilaian program.

Menyusun prota, promes, silabus, RPP, dan sejenisnya secara mandiri dan atau berdiskusi dengan teman sejawat merupakan langkah awal untuk ”memaksa” diri kita (baca: guru) menjadi produsen. Oleh karena itu, ada baiknya kita simak penuturan Ramli (2004) perilaku terbaik dalam pengajaran guru adalah sangunis dan melakonis, pada penggunaan masing-masing. Sedangkan perilaku lain, koleris dan plegmatis merupakan perilaku pendukung yang saling bersinergi.

Perilaku sangunis merupakan perilaku pengajaran yang memiliki sikap ramah, suka berbincang dengan siswa/murid, cerita setiap bertemu murid/siswanya, percaya diri, bersih fikirannya, cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan, cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan. Perilaku sangunis sangat baik digunakan guru dalam interaksi dan cara menghadapi kelas dan peserta didik.

Sedangkan perilaku melankolis adalah perilaku pengajaran yang memiliki sikap teliti, selalu mengajar dengan data dan fakta, detil daan melakukan pengajaran secara tuntas. Perilaku melankolis sangat baik digunakan guru pada saat mempersiapkan mata ajaran, modul kurikulum, menjelaskan dan menerangkan materi pelajaran kepada peserta didik.

Epilog:

Menjadi guru yang mampu berperan sebagai produsen bukan merupakan hal yang mudah lantaran seluruh cipta, rasa, dan karsa perlu bersimbiosis mutualisme, membentuk sebuah ”rantai pembelajaran” yang kokoh. Tugas-tugas merencanakan administrasi pembelajaran, di antaranya menyusun program tahunan dan program semester perlu dilakukan dalam rangka mendesain bingkai pembelajaran efektif.

Paradigma “copy paste“ administrasi pembelajaran dan menjadikan administrasi pembelajaran hanya sebagai “pelengkap penderita“ secara evolusif perlu ditinggalkan. Berlatih, belajar meramu, berdiskusi, menganalisis, dan menindakkritisi berbagai informasi dalam dunia pendidikan merupakan langkah awal untuk membekali diri menjadi guru yang memiliki kompetensi secara holistik, yakni kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial.

Semoga bermanfaat!

Pustaka Acuan:

Arikunto, Suharsimi dan Jabar, Cepi Safruddin Abdul. 2004. Evaluasi Program Pendidikan, Pedoman Teoretis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

J. Drost, SJ. 2005. Dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) sampai MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Dasar Pemahaman dan Pengembangan, Pedoman Bagi Pengelola Lembaga Pendidikan, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Dewan Sekolah, dan Guru. Jakarta: Bumi Aksara.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Nomor 22 dan 23 Tahun 2006.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Ramly, A.T. 2004. Pumping Talent. Jakarta: Pustaka Inti.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 1988. Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: P2LPTK Depdikbud.

Susilo, Muhammad Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tilaar, HAR. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan, Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Trimo. 2001. Guru Hanya Tukang Mengajar. Tabloid Inspirator. Semarang. Edisi Maret 2001. www.pendidikannetwork.com

Uno, Hamzah B. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Dipublikasi di education | Tag , , | 2 Komentar

Pengganti Pembelajaran Konvensional

e-Learning memang merupakan suatu terobosan dalam proses pembelajaran. Kendati demikian, seringkali timbul pertanyaan dari kita, apakah suatu saat nanti, e-Learning dapat menggantikan metode pembelajaran konvensional? Sedangkan permasalahan proses pembelajaran itu sendiri pada hakekatnya tidak hanya sekedar proses pengalihan ilmu dan teknologi saja, melainkan masalah kualitas dari manusia itu sendiri sebagai pembelajar. Masalah kualitas tidak hanya menyangkut kepandaian dan kecerdasannya saja, tetapi juga sikap, perilaku, karakter serta mentalitasnya.

Pada proses pembelajaran konvensional, pertemuan antara pengajar dan peserta belajar dilakukan secara langsung dalam suatu kelas, yang menciptakan berbagai efek baik sosial, moril, maupun psikologis bagi peserta belajar tersebut. Tatap mata dari sang pengajar dapat dirasakan sebagai perhatian, teguran, maupun pengawasan. Suasana hiruk-pikuk selama pergantian sesi jadwal belajar ataupun selama diskusi hingga keadaan sunyi senyap kala sang pengajar sedang seriusnya memberikan bahan-bahan pembelajaran, menghadirkan suasana belajar yang hidup.

Sementara itu, bahan-bahan pembelajaran diberikan oleh sang pengajar secara setahap demi setahap, satu kalimat demi satu kalimat, satu rumus demi satu rumus dituliskan dan dijelaskan oleh pengajar dengan intonasi tertentu. Peserta belajar dapat memahami melalui “permainan” intonasi tersebut, mengerti bagian mana yang ditekankan penting oleh sang pengajar dan bagian mana yang hanya berupa keterangan pendukung saja.

Pertemuan antara pengajar dengan peserta belajar serta antarpeserta belajar yang berbeda jenis kelamin, latar belakang keluarga dan status sosial, budaya dan cara pandang, sikap serta pola pergaulan, secara langsung maupun secara tidak langsung akan membentuk kepribadian para peserta belajar.

Jika metode pembelajaran konvensional diperhatikan secara lebih seksama, dapat diketahui bahwa suatu proses pembelajaran tidak hanya menekankan pada aspek ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi juga memiliki sejumlah manfaat lain yang juga penting dalam membentuk kepribadian seseorang.

Jika kita telaah lebih jauh, sesungguhnya kehadiran metode pembelajaran secara e-Learning tidak diarahkan untuk menghilangkan ataupun meminimkan fungsi dari pada metode pembelajaran secara konvensional. Akan tetapi, sesungguhnya, kehadiran e-Learning adalah suatu upaya untuk mengisi kekurangan yang dimiliki dalam metode pembelajaran secara konvensional. Perpaduan antara e-Learning dengan pembelajaran konvensional senantiasa menciptakan suatu sinergi pembelajaran positif, yang menjadikan proses pembelajaran tersebut menjadi lebih berkualitas dalam banyak hal.

Dalam beberapa hal, e-Learning memang unggul, dalam hal lainnya, e-Learning juga memiliki kekurangan. Begitu pula halnya dengan metode pembelajaran konvensional. Keduanya harus diupayakan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing sehingga pengorientasian yang berlebihan pada suatu bidang dapat diseimbangkan dengan aspek lainnya yang tidak kalah pentingnya

Dipublikasi di education | 1 Komentar

Kontribusi Teori Belajar Kognitif pada Pembelajaran Kooperatif

Pada kesempatan ini akan dibahas dua teori yang berhubungan dengan teori belajar kognitif, yaitu teori Piaget dan teori Vygotsky. Karena kedua banyak menyumbang dalam pembentukan pembelajaran Kooperatif.

1. Teori Piaget Jean Piaget adalah ahli psikologi yang pertama menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar. Ia menjelaskan bagaimana proses pengetahuan seseorang dalam teori perkembangan intelektual yaitu berpikir dari konkrit ke abstrak. Menurut Piaget, tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel, terutama selama masa transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. Umur kronologis itu dapat saling tindih tergantung kepada individu. Skema adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengan seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Menurut Piaget, adaptasi adalah proses penyesuaian skema dalam merespon lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya. Akomodasi adalah proses pengintegrasian stimulus baru kedalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung. Selanjutnya dalam proses perkembangan kognitif seseorang diperlukan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Keadaan ini disebut dengan equilibrium. Pada bagian lain Slavin menegaskan bahwa teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Hal ini berarti bahwa anak-anak mengkontruksi pengetahuan secara terus-menerus dengan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi-informasi baru. Sumbangan penting dari teori belajar Piaget dalam pembelajaran kooperatif, adalah pada saat siswa mengkonstruk dalam penyelesaian tugas-tugas secara individu dan secara kelompok saat siswa bekerja dalam kelompok. Salah satu syarat keanggotaan kelompok belajar adalah mempertimbangkan kemajuan perkembangan anak. Dalam kelompoknya siswa saling berdiskusi tentang masalah-masalah yang menjadi tugas kelompoknya masing-masing. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar yang mendapat kesulitan pada saat mereka mengerjakan tugas.

2. Teori Vygotsky Vygotsky mengemukakan ada empat prinsip kunci dalam pembelajaran, yaitu: (1) penekanan pada hakekat sosio-kultural pada pembelajaran (the sosiocultural of learning), (2) zona perkembangan terdekat (zone of proximal development), (3) pemagangan kognitif (cognitive appreticeship), dan (4) perancahan (scaffolding). Keempat prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini. Prinsip pertama menurut Vygotsky siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain dalam proses pembelajaran. Prinsip kedua menurut Vygotsky dalam proses perkembangan kemampuan kognitif setiap anak memiliki apa yang disebut zona perkembangan proksimal (zone of proximal development) yang didefinisikan sebagai jarak atau selisih antara tingkat perkembangan anak yang aktual dengan tingkat perkembangan potensial yang lebih tinggi yang bisa dicapai si anak jika ia mendapat bimbingan atau bantuan dari seseorang yang lebih dewasa atau lebih berkompeten. Prinsip ketiga menurut Vygotsky adalah pemagangan kognitif, yaitu suatu proses dimana seorang siswa belajar setahap demi setahap akan memperoleh keahlian dalam interaksinya dengan seorang ahli. Seorang ahli bisa orang dewasa atau orang yang lebih tua atau teman sebaya yang telah menguasai permasalahannya. Prinsip keempat menurut Vygotsky adalah perancahan atau scaffolding, merupakan satu ide kunci yang ditemukan dari gagasan pembelajaran sosial Vygotsky. Perancahan berarti pemberian sejumlah besar bantuan kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian secara perlahan bantuan tersebut dikurangi dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Berdasarkan uraian di atas, maka implikasi utama dari teori Vygotsky terhadap pembelajaran adalah kemampuan untuk mewujudkan tatanan pembelajaran kooperatif dengan dibentuk kelompok-kelompok belajar yang mempunyai tingkat kemampuan berbeda dan penekanan perancahan dalam pembelajaran supaya siswa mempunyai tanggungjawab terhadap belajar. (dari berbagai sumber)

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

Peranan Media Pembelajaran dan Pemilihannya dalam Pembelajaran

Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Banyak sekali hambatan yang dihadapi oleh guru dalam penyampaian pesan kepada siswa, baik dari dalam diri guru sendiri maupun siswa. Proses komunikasi belajar mengajar seringkali berlangsung secara tidak efektif dan efisien.

Media Pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan dapat membantu mengatasi hal tersebut. Perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak georafis, waktu dan lain-lain dapat dibantu dengan pemanfaatan media.

Mengapa guru perlu mengetahui dan menggunakan media dalam pembelajaran? Curzon (1985) menyatakan sebagai berikut:

The object of using audio visual material in the classroom in the communication of information incidental to the total teaching process. Selected and used skillfully the aid in the right time, the right place, and the right manner – audio visual aids (AVA) can multiply and widen the channels of communication between teacher and class.

Pernyataan Curzon cukup jelas kiranya dapat mencirikan pentingnya penggunaan media dalam bentuk AVA untuk pengajaran secara umum, bahwa penggunaan AVA dapat memperluas saluran komunikasi antara guru dan siswa. Maksudnya apabila Anda mengajar dengan tidak menggunakan AVA seperti ketika menjelaskan materi pelajaran atau ketika memberi latihan, berarti Anda hanya menggunakan mulut untuk berkomunikasi atau disebut juga komunikasi verbal. Apabila Anda menggunakan media seperti tape, gambar, dll. dalam mengajar, maka Anda menggunakan lebih dari satu saluran komunikasi. Anda tidak hanya memberikan stimulus secara verbal saja, tetapi Anda juga menggunakan stimulus melalui saluran aural dan visual. Semakin banyak kita menggunakan saluran komunikasi ketika mengajar, semakin banyak informasi yang dapat diserap siswa, serta tentunya semakin efektif pengajaran kita.

Selanjutnya, Curzon menyampaikan maksud utama dari penggunaan media sebagai berikut :

A class acquires knowledge and skills as the results of assimilation of responses elicited by those stimuli which create sensory impressions. The concept of teaching which is based on the teacher relying solely on his voice and personality steems from the belief that communication is best achieved through the medium of sound. The use of AVA (media) in a lesson is based on the consideration of communication as related to all the senses of the talk of the teacher in providing the appropriate stimuli for desired responses can be facilitated by him to engage the students’ senses of hearing, seeing, touching, etc.

Dari penuturan Curzon, kita dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa merupakan asimilasi atau gabungan dari respon-respon yang dirangsang oleh stimulus-stimulus yang menciptakan suatu kesan sensoris pada diri siswa. Sebagai contoh, ketika Anda mengajar reading, Anda menemukan satu hal yang sangat sulit dijelaskan secara verbal dari teks kepada siswa. Kemudian, Anda menggunakan alat bantu visual berupa gambar. Dalam hal ini, selain Anda menggunakan saluran komunikasi verbal, Anda juga menggunakan saluran komunikasi lain yaitu visual. Siswa akan lebih dapat memahami pelajaran dengan bantuan visual berupa gambar selain penjelasan guru.

Pentingnya media juga dapat dilihat dari aspek kehidupan siswa. Suatu kenyataan bahwa siswa mendapatkan pengalaman yang lebih luas dan bervariasi dibanding orangtua mereka ketika masih muda. Sehingga cukup beralasan kiranya apabila sekolah memberikan siswa pengalaman sebanyak mungkin dan variatif. Untuk mencapai hal ini, sekolah harus menggunakan sebanyak mungkin media yang dapat menyajikan berbagai pengalaman kepada siswa. Moller (1974) dalam hal ini menyatakan:

Life divides two kinds of reality: that imposed by the school; and the real, living world outside. The new media can help us a lot in our task of: unifying the two realities; indeed they are indipensable if we want to succeed in giving children a stimulating environment in which they can learn.

Pernyataan di atas menjelaskan bahwa media instruksional sangat bermanfaat untuk membangkitkan motivasi siswa dalam belajar karena media menyajikan banyak pengalaman yang menarik, bahkan pengalaman akan dunia di luar sekolah. Walaupun demikian, hasil yang didapat sangat dipengaruhi oleh penggunaan media dengan benar, tepat, dan terseleksi.

Banyak guru tidak memanfaatkan media audio-visual karena dianggap mahal atau tidak tahu cara pemanfaatannya dalam pembelajaran. Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa” memang terjadi dalam pemanfaatan media. Banyak guru tidak bisa karena tidak diajari atau tidak mau belajar sendiri untuk menggunakannya, serta tidak mau mencoba. Suatu sikap yang harus diterapkan di kalangan guru adalah mencoba belajar menggunakannya. Guru akan langsung merasakan manfaatnya setelah mencoba.

Media dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran baik secara klasikal maupun individual. Dalam pembelajaran klasikal, media menjadi bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri. Melalui penggunaan media, siswa dapat terlibat langsung dengan materi yang sedang dipelajari. Misalnya, penggunaan media realia atau benda nyata akan memberikan pengalaman belajar (learning experiences) yang sesungguhnya kepada siswa. Siswa dapat menyentuh dan mengobservasi benda tersebut dan memperoleh informasi yang diperlukan. Dalam mata pelajaran biologi, contoh benda nyata adalah flora dan fauna yang dapat diobservasi secara langsung oleh siswa.

Karakteristik Media Pembelajaran

Selain tahu pentingnya penggunaan media pembelajaran, Anda juga harus mengetahui karakteristik setiap media, potensi apa yang dimilikinya, apa kelebihan dan apa kekurangannya. Hal ini penting untuk mendapatkan hasil yang optimal dari penggunaan media tertentu dalam pembelajaran. Setelah mengetahui karakteristik berbagai media, kita dapat menyeleksi media mana yang cocok untuk digunakan pada proses belajar mengajar tertentu. Dalam hal pentingnya mengetahui karakteristik (properti) media, Kemp (1985) menyatakan:

This properties of media help to indicate why they are used and what they can accomplish that teachers alone can not accomplish (or can accomplish less efficiently). The properties affect the ways in which each medium is used.

Terdapat tiga karakteristik media secara umum menurut Kemp (1985) yaitu: fixative, manipulative, dan distributive. Fixative property mengacu pada kemampuan media untuk merekam peristiwa, menyimpan, dan mereproduksi informasi bilamana diperlukan. Contoh media ini adalah: pita kaset audio dan video, sekarang ditambah dengan cd, vcd, dan dvd. Alat rekam dan putarnya adalah tape recorder, kamera, video player, cd/vcd/dvd player, televisi dan komputer.

Manipulative property adalah kemampuan media untuk mentransformasi obyek atau peristiwa dengan berbagai cara. Kemampuan ini dimiliki media seperti: kamera yang dapat memperbesar/memperkecil obyek; mempercepat proses, contohnya proses membukanya kelopak bunga. Dalam PBM tentang geografi, guru dapat memanfaatkan misalnya video sebuah gunung berapi yang tidak mungkin dilihat dari jarak dekat. Kemampuan manipulatif sekarang sudah sangat maju dengan bantuan komputer. Kita tidak perlu kemana-mana mencari bahan, segala bahan yang diperlukan dapat ditemukan di komputer serta dimanipulasi di komputer pula.

Distributive property adalah kemampuan media untuk menyebarkan informasi melalui udara, sehingga peristiwa yang terjadi di tempat yang berjauhan dapat ditayangkan secara simultan. Contoh untuk ini adalah siaran tutorial udara Universitas Terbuka yang dipersiapkan sebelumnya di Studio UT kemudian disiarkan ke seluruh Indonesia melalui RRI.

E. Pemilihan Media Untuk Pembelajaran

Setelah Anda mengetahui pentingnya media untuk pembelajaran, tugas Anda selanjutnya adalah memilih media yang paling baik dan paling cocok untuk suatu kegiatan pembelajaran. Sebelum Anda menentukan media apa yang akan Anda pilih atau terapkan dalam pembelajaran, ada baiknya Anda perhatikan saran-saran yang disampaikan oleh Curzon (1985). Menurut Curzon ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dapat dipertimbangkan sebelum Anda menentukan suatu media, yaitu sebagai berikut:

Apakah tujuan instruksional yang ingin saya capai benar-benar membutuhkan pemanfaatan alat bantu audio-visual ?

Karakteristik media yang bagaimana yang akan membantu saya dalam mencapai tujuan instruksional?

Respon apa yang ingin saya peroleh dari penggunaan media, misal; ingatan, pemahaman, atau konsolidasi?

Bagaimana respon siswa/kelas terhadap penggunaan media?

Bagaimana saya mengevaluasi keefektifan media yang dipergunakan?

Sekarang mari kita bahas satu per satu pertanyaan-pertanyaan di atas agar Anda paham benar apa yang harus Anda lakukan dalam memilih suatu media. Suatu keharusan bahwa ketika Anda mengajar, Anda telah memiliki tujuan instruksional yang harus dicapai siswa Anda. Biasanya, tujuan instruksional menyatakan suatu perubahan perilaku. Oleh karenanya dalam pemilihan media, Anda harus memperhatikan kesesuaian media dengan tujuan yang ingin dicapai. Sebagai contoh dalam pelajaran listening comprehension, tujuan instrusionalnya adalah siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang isi wacana bahasa Inggris yang dibacakan oleh seorang native speaker. Media yang Anda pilih haruslah media yang dapat memfasilitasi siswa untuk melakukan latihan mendengarkan suatu teks yang dibacakan oleh native speaker, yaitu sebuah tape recorder dan kaset yang berisi rekaman suara seorang native speaker yang sedang membaca suatu teks. Tanpa menggunakan media ini, tujuan instruksional akan sulit dicapai.

Pertanyaan kedua membuat Anda harus memikirkan karakteristik suatu media yang akan membantu Anda dalam mencapai tujuan instruksional. Misalnya kita ambil contoh di atas, karena Anda memerlukan rekaman suara seorang native speaker, maka media yang akan dipergunakan haruslah memiliki karakteristik “fixative” property yaitu kemampuan media untuk merekam peristiwa, menyimpan, dan mereproduksi informasi bilamana diperlukan. Media yang memiliki karakteristik seperti ini adalah tape recorder atau cd player.

Pertanyaan ketiga mengharuskan Anda untuk mempertimbangkan respon yang dirangsang stimulus atau dibangkitkan oleh suatu media yang Anda pilih. Dalam pelajaran listening comprehension di atas, respon yang diinginkan adalah pemahaman isi suatu teks yang dibacakan oleh seorang native speaker. Pemahaman dicirikan dengan kemampuan siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang isi teks/wacana setelah menyimak dengan seksama kaset/cd berisi bacaan yang diputarmainkan oleh tape-recorder atau cd-player.

Pertanyaan keempat membuat Anda harus mempertimbangkan respon siswa terhadap penggunaan suatu media. Apakah dengan penggunaan media tersebut siswa menyambut dengan antusias ataukah malah menjadikan siswa lebih banyak mengalami kesulitan. Apakah siswa tertarik dengan pelajarannya? Apakah mereka akan dapat mencapai tujuan instruksional dengan lebih efektif dengan media tersebut? Semuanya ini bergantung pada media yang Anda pilih, karenanya, pilihlah media yang sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan/level siswa, dan pastikan bahwa media tersebut dalam kondisi yang baik. Sebagai contoh, jika materi pelajaran terlalu sukar untuk siswa, jika peralatan (dalam contoh di atas adalah tape recorder) rusak atau tidak menghasilkan suara yang baik, maka media tersebut jangan dipakai.

Pertanyaan kelima adalah hal terakhir yang perlu Anda pertimbangkan yaitu bagaimana mengevaluasi keefektifan media yang kita pergunakan. Hal ini mudah kita lakukan dengan mengecek pemahaman siswa terhadap materi setelah Anda mengajar. Selain itu, Anda juga dapat melakukan evaluasi selagi proses belajar mengajar berjalan, dengan mengamati pencapaian dan prilaku siswa, apakah mereka tertarik atau menunjukan antusiasme ketika merespon media yang dipergunakan.

Kelima pertanyan tersebut sangat penting untuk dipertimbangkan sebelum menentukan media yang akan dipergunakan.

Sementara itu Kemp (1985) menunjukan beberapa faktor yang perlu dipertimbang dalam memilih suatu media untuk pembelajaran sebagai berikut:

Appropriateness/Kesesuaian. Media yang dipergunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, jika Anda ingin siswa Anda dapat membaca iklan tentang lowongan kerja, media yang sesuai adalah koran.

Level of Sophistification. Ini mengacu pada kesesuaian media dengan tingkat kemampuan/level siswa. Sebagai contoh: ketika membeli kaset di toko, Anda mungkin mendapat hasil rekaman yang baik dengan suara yang jelas; tetapi ternyata kaset tersebut isinya terlalu sulit dipahami oleh siswa Anda. Jadi pemilihan kaset tersebut tidak memenuhi persaratan level yang siswa dan Anda perlukan. Untuk menghindari kejadian seperti ini Anda harus mengevaluasi tingkat sophistification materi kaset tersebut, yaitu kosakatanya, kecepatan penyajiannya (cepat/lambat), tingkat kompleksitas struktur kalimatnya, dan sebagainya sehingga isi materi sesuai dengan tingkat kemampuan/level siswa.

Cost/Biaya. Anda harus mempertimbangkan apakah media yang ingin Anda pergunakan membutuhkan biaya dapat dijangkau oleh Anda sendiri atau sekolah. Meskipun peralatan tersebut kemudian dibeli oleh sekolah, apakah biaya tersebut sebanding dengan keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelajaran dengan media tersebut. Tetapi, Anda tentunya tidak akan menyerah dengan situasi tersebut.

Availibility/Ketersediaan. Faktor keempat ini adalah tentang apakah media tersebut tersedia. Bila tiak, tentunya Anda akan mencari alternatif-alternatif lain.

Technical Quality/Kualitas Teknis Peralatan. Faktor kualitas teknis mengacu pada suatu kenyataan bahwa ketika Anda memilih suatu media, media yang dipilih tersebut haruslah berkualitas baik. Suara yang tidak jelas dari rekaman yang tidak berkualitas hanya akan menghancurkan efektifitas media yang digunakan yang sebelumnya diharapkan dapat menyajikan banyak stimuli.

Dari penuturan kedua ahli media pembelajaran tersebut di atas, kiranya kita mendapat gambaran yang lebih luas tentang faktor apa saja yang harus kita pertimbangkan ketika kita akan memilih suatu media yang akan kita pakai untuk membantu proses pembelajaran siswa dalam upaya mencapai tujuan instruksional secara optimal.

Dipublikasi di education | Tag , | 5 Komentar